Ketika Rasa Lelah Tiba

Bila rasa lelah tiba, menghampiri kita, mengusik ketenangan jiwa kita, atau menguras tenaga fisik kita, kita hanya harus melaluinya. Sebab, ia punya siklusnya, punya jadwalnya. Tapi yang lebih jauh dari itu, di saat2 rasa lelah itu tiba, kita seharusnya bisa menghadirkan dimensi kerasulan dalam rasa lelah. Menyadari betapa kita berhutang sangat tak terbatas, atas rasa lelah Rasulullah.

Seringkali, sepanjang hidup kita jalani justru hanya untuk bertahan hidup. Dan itu bisa jadi menyita hampir seluruh rasa lelah kita. Maka rasa lelah, dalam bentuknya yang beraneka rupa, bisa berubah menjadi pembunuh harapan. Karena itu, tidak sedikit dari kita yang gagal bersahabat dengan rasa lelah. Bahkan banyak juga yang akhirnya berguguran. Mudah bagi kita untuk semangat dalam berencana, atau berniat, atau memulai. Tapi tidak gampang untuk bertahan ketika rasa lelah tiba.

Maka kesadaran akan lelah diberi perhatian besar oleh islam. Dengan menjelaskan bahwa perbedaan mendasar atas keberartian kita bukan pada rasa lelah itu sendiri, tapi pada janji konversi atas rasa lelah yang kita alami dengan harapan dan balasan dari Allah. Sebab orang-orang kafir bahkan juga mengalami rasa lelah. Tetapi orang beriman punya harapan luar biasa atas rasa lelah itu. “…..jika kamu menderita kesakitan,  maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan pula, sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Nisa’ :104)

 

#Tarbawi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s