Hati

Berbicara masalah hati memang menarik, apalagi jika hati itu sudah mulai berwarna merah jambu.. Hati, fitrahnya menurut surat Asy Syamsy ayat 8-9, cenderung pada 2 hal, kebaikan dan keburukan, barang siapa menyucikannya, beruntunglah ia, sebaliknya barang siapa mengotorinya maka merugilah dia.

Hati, ketika ia sudah mulai jatuh pada lain hati, menruh harapan pada lain hati, dalam artian pada lawan jenis, rasanya mungkin akan sangat indah, tetapi juga akan sangat menyakitkan jika memang rasa itu hadir di saat yang tidak tepat. 

Menghadapi permasalahan dengan saudara-saudara yang hatinya mulai memerah jambu, bingung juga rasanya harus bersikap seperti apa. Lagi-lagi ini adalah fitrah, tetapi lagi-lagi akan menjadi masalah jika hadir diwaktu yang tidak tepat, dan tidak bisa mengendalikannya. saya pun pernah merasakannya, karena saya masih punya hati 🙂

Memang untuk mengendalikan dan keluar dari perasaan butuh perjuangan dan niat yang kuat. Perbanyak motivasi dan kesibukan. salah satu penjagaan yang saya lakukan adalah tetap diisi dan mengisi. Inilah salah satu kuncinya. karena dengan diisi, kita mendapat nasehat, denga mengisi itu akan menjadi motivasi untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi..

Sahabat, mari saling menasehati, saling membantu dalam kebenaran dan kesabaran

Advertisements

Catatan Pagi

Mengingat cuplikan pidato Abu Bakar Ash Shidiq, saat diangkat menjadi khalifah, salah satunya adalah “Aku bukanlah yang terbaik diantara kalian….”

ya, saat ini. saat dihadapkan dalam permasalahan yang saya sendiri bingung bagaimana mengatasinya. dihadapkan dengan orang-orang yang luar biasa, tetapi saat ini posisinya adalah saya yang harus mengingatkan, dan saya yang harus menjaga mereka. Bukan karena saya yang paling baik, bukan pula karena saya paling tinggi ilmunya, tetapi memang jika melihat saudara/teman yang berbuat salah sudah seharusnya kita mengingatkan.

Dan permasalahannya adalah, mengingatkan dengan cara apa? bagaimana? apa yang harus saya lakuakan? saya pun bingung, mengingat saat kami bertemu, berkumpul membicarakan hal ini, diakhir pertemuan suasana menjadi tidak enak. Apakah mungkin karena ada kata yangsalah terucap, atau mungkin sikap yang terlalu blak-blakan. entahlah..

Allah tidak akan membebani hambanya diluar kesanggupan hambanya. saya berfikir, mungkin bukan saya yang harus menyelesaikannya. mungkin menjauh lebih baik. salahkah? saya pun tidak tau..

Bolehkah Acuh??

Salahkah jika acuh dan tak peduli? lalu, kenapa kita pun ikut berdosa jika melihat kemungkaran tetapi membiarkannya saja?

Dalam lubuk hati yang paling dalam, ada bisikan, kan masalah saya juga banyak, kenapa cape-cape harus memikirkan masalah orang lain? apalagi jika orang-orang tersebut juga tak pernah peduli dengan masalah saya. terus masalah buat loe? (haha, apa coba)

pernahkah terfikir seperti itu?

Sahabat, agama Islam mengajarkan untuk saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Jika tidak saling mensehati, maka kedzaliman akan merajalela. Dan ketika meliah kemaksiatan, kita berdiam diri, maka kita akan berdosa. Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa jika kita melihat kemungkaran, maka kita mencegahnya dengan 3 hal, tangan, mulut dan hati, dengan mengingkarinya dalam hati, dan inilah selemah-lemahnya iman. jika mengingkari dengan hati adalah selemah-lemahnya iman, lalu bagaimana jika kita tetap acuh?

Sahabat, tetaplah bersemangat, dalam menyebarkan kebaikan, dalam saling menasehati dan mengingatkan. Bahkan saat saat perjuangan itu dirasa begitu berat, merasa sendiri. Yakinlah, Allah pasti akan selalu menolong hambaNYa. Yakinlah akan janjiNya.. dan jika kita renungkan, perjuangan kita saat ini belum ada apa-apanya dibandingkan para pejuang terdahulu.. so tak ada alasan untuk kita mundur dan berdiam diri..

#Nasihat untuk diri