Perasaan Takut

Nabi Musa pun memiliki perasaan takut atau khawatir dalam menunaikan amanah dakwah

Perhatikan curhat Nabi Musa kepada Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku”. Dalam penggalan ayat berikutnya, Nabi Musa mengatakan, “…maka aku takut mereka akan membunuhku”.

Nabi yang dikisahkan memiliki fisik yang kuat, memiliki kekuatan yang hebat, namun masih memiliki perasaan khawatir atau takut ketika hendak menjalankan perintah dari Allah. Sesungguhnya perasaan seperti ini memang sangat manusiawi, namun tidak boleh digunakan sebagai pembenar untuk tidak melaksanakan tugas dakwah. Perasaan khawatir dan takut itu harus segera diatasi dan dikuasai agar tidak melalaikan amanah dakwah.

 

Dikutip dari tulisan Pak Cahyadi Takariawan

Advertisements

lingkaran

kamu merasa banyak masalah? sulit banget menghadapinya?
merasa berat? yuk tengok kembali pada diri kita, mungkin saat ini kita sedang jauh dari Allah..
ayo bangkit, masa kita mau terus-terusan terpuruk. gak mau memperbaiki diri.

sholat biasa-biasa saja, gak ngaruh. tilawah apa lagi, cuma sekedar baca. hafalan? jangan ditanya deh..

yuk kembali menata diri, menata hati, mencoba memperbaiki diri. saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

yuk datang dalam acara rutin kita, melingkar dalam ikatan iman dan cinta.. semoga dimudahkan.

kakak tunggu kehadirannya ya..

*untuk yang merasa terpanggil aja..

Amanah

Mutarabbi, bagi saya adalah amanah, titipan yang harus dijaga. 
Pertemuan pertama saat mengisi sebuah kelompok, hal yang harus saya lakukan selain mengenal dan mengingat nama mereka adalah berusaha menautkan hati dengan mereka. 
Saat tidak hadir tanpa kabar, hati ini bertanya, ada apakah? Apakah baik2 saja? 
Saat melihatnya tumbuh berkembang menjadi lebih baik, ada kegembiraan. 
Saat melihatnya mulai kurang semangat dan ogah2 an, kembali bertanya pada diri, adakah yang salah di diri ini? Tentu banyak. Astaghfirullah.. 
Kadang ada perasaan tidak pantas untuk memeganh amanah ini. Tetapi, jika ditinggalkan, apakah mau menjadi orang yang hany menonton saja? Timgal, diam, bersama orang2 yang duduk. Dan salah satu yang embuat kuat bertahan adalah mereka. Keceriaan, semangat, tawa canda dll itu semua yang membuat saya rindu ingin bertemu… 

Ana uhibukum fillah… 

Menghadirkan Kesyukuran

Berbicara mengenai syukur, tak pernah bosan. Karena, walau pun sering membicarakannya baik ketika mengisi maupin berbincang biasa, terkadang diri ini masih kurang untuk melakukannya. 

Ketika mengamati beberapa teman yang luar biasa, banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka. Seorang teman yang dengan kesibukannya, ia masih bisa memperhatikan teman yang lain, masih bisa membantunya. Adakah keluhan yang keluar dari mulutnya? Jika dibandingkan dengan diri ini, jauh sekali.. 

Seorang teman yang ketika saya memandangnya perjuangan dakwahnya luar biasa, ia masih ingin membahagiakan rekan2 seperjuangannya dengan memberikan semacam hadiah pada mereka. Adakah keluhan yang keluar dari mulutnya? 

Mereka luar biasa jika dibandingkan dengan diri ini, yang kadang keluhan ini keluar dari mulut dan kurangnya menghadirkan rasa syukur…. Faghfirlana ya Rab… 

Mari kawan banyak-banyak bersyukur, karena diluar sana masih banyak para pejuang lain yang mungkin kita tidak tau bahwa beban dan amanahnya jauh melebihi kita, dan mereka masih tetap bertahan…

Peduli

Saat dlm kendaraan, salah satu yang paling saya suka adalah melihat keadaan perjalanan. Memperhatikan para pengendara, pejalan kaki, pedagang dll. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Teringat beberapa hari yang lalu, saat menonton sebuah acara TV yang memberitakan seorang pemulung yang punya tekad kuat untuk kuliah, dan sekarang menjadi banyak orang yang salut dan peduli padanya. Kemudian seorang anak kecil, dia pengamen yang kemudian ditwari untuk rekaman dan akhirnya jd terkenal. Lalu saya berfikir, apakah harus masuk tv terlebih dahulu kemudian banyak orang yang peduli terhadap yang membutuhkan? 

Mungkin memang ada banyak orang yang kita tidak tau, mereka berjuang dan peduli terhadap sesama. Nah masalahnya adalah mungkin terletak pada diri kita, terkadang rasa egois muncul. Kurang bijak dalam menggunakan dan membelanjakan harta. Diluar sana ada banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan. Setidaknya, jika memangbkita belum sanggup memberikan bantuan lebih, ada rasa peduli terhadap mereka, ada cita dan keyakinan untuk turut berkontribusi dalam perubahan, dan selelu senantiasa menghadirkan kesyukuran, betapa kita jauh lebih beruntung dari mereka.. 

Rabu, 20 Maret 2013 
Dalam perjalanan kalimalang-depok

Nasehat untuk Diri Sendiri

Tausiyah yang diberikan, begitu sampai ke hati. Yah, mungkin memang begitulah seharusnya seorang da’i, harus menjaga ruhiyahnya. 

Pertanyaan yang sering muncul saat evaluasi mentoring adalah, kenapa banyak para mentor yang kurang semangat? Kenapa banyak kelompok yang kemudian tidak aktif? Atau kenapa banyak binaan yang muwasofatnya tidak sesuai dengan yang diharapakan? 

Sebelum kita jauh-jauh menyalahkan sistem yang salah, yuk kita tengok kembali diri kita. Jika kita seorang mentor/murabbi/Aktifis dakwah, adakah kita tetap menjaga amalan harian kita? Bagaimana QL kita? Bagaimana duha kita? Bagaimana shaum sunnah kita? Al ma’tsurat kita? Seorang kakak pernah berkata, Aktifis ko masih baca Al ma’tsurat sughra (jlebb). Sudah berapa tahun kita liqo, lalu apakah hafalan kita bertambah atau justru stagnan? Lalu, tilawah kita bagaimana? Dalam 1 minggu, berapa halaman kita membaca buku? Apa bedanya kita dengan teman2 yang belum liqo, jika kita tidak memperhatikan itu semua? 

Jika ruhiah seorang da’i terjaga, tak ada lagi keluhan. Tak ada lagi sakit hati. Ada atau tidaknya kita dalam barisan dakwah, dakwah ini akan tetap berjalan. Istilahnya kasarnya kalau menurut seorang kakak, lo mau berhenti/keluar, keluar aja, silahkan. Toh pasti akan ada yang menggantikan. 

Dakwah, walaupun digerakan oleh sedikit orang, jika orang2 tersebut luar biasa, semangatnya terjaga, ruhiahnya terjaga, maka akan berjalan dengan baik dan tak ada keluh kesah. Tetapi jika dakwah dipegang oleh banyak orang tapi orang2 tersebut acuh terhadap amalan hariannya, tidak bisa menjaga ruhiahnya, maka keluh kesah akan sering keluar dari mulut, merasa berat menghadapi segala rintangan. 

Selamat berjuang teman-teman. Ingatlah, ketika keluhan sering keluar dari mulut ini, dakwah seolah tidak membuahkan hasil, yuk tengok kembali bagaimana diri kita. 

Nasehat untuk diri sendiri..

Mari Berbagi

Saat membuka slide materi dari Festival Sukses Mulia tahun 2012, materinya luar biasa. Mengugah, menyemangati, memberi manfaat dan menyadarkan. Ya saya kembali diingatkan lewat salah satu materi yang disampaikan oleh saptuari Sugiharto yang berjudul “Hidup Manfaat membuka pintu keberuntungan”.  Terkadang memang diri ini banyak mengeluh, bukankah dengan bersyukur jauh lebih baik. Ah memang terkadang ke egoisan itu muncul sebagai sisi manusiawi, dan ketika membaca slide ini, kembali diingatkan akan pentingnya bersyukur, pentingnya berbagi, pentingnya memberi manfaat.

Begini kira-kira isinya.

  1. Bagaimana gaya hidup kita? Beli I pad 7 juta? Galaxy tab 6 juta? BB 5,6 juta? Belanja baju 2 juta? Nongkrong di café? Makan fasfood? Jalan-jalan?
  2. Pernahkah kamu tiba-tiba merasakan kebosanan tingkat dewa? Tiba-tiba mikir apa yang kamu cari di dunia?
  3. Tahukah kita, ketika kita mungkin saat ini masih bisa menikmati makanan, masih dengan tempat tinggal yang nyaman, masih bisa tidur dengan nyaman, dan ternyata di tempat yang lain ada yang lebih membutuhkan, ada yang sedang kelaparan, sakit dan berjuang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya?
  4. “Tahukah kamu, siapa itu pendusta agama? Mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin” (QS Al-ma’un: 1-3), bagaimana rasanya? Punya agama tapi dianggap pendusta?
  5. Permudah urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusan kita. InsyaAllah.
  6. Kita bisa berkeluh kesah atau mencaci maki keadaan.. tapi pilihan terbaik kita adalah bergerak.
  7. Memberi itu tenangkan hati..
  8. Ketika hatimu gundah, sering gelisah, hidup selalu resah, mencari rejeki susah, tiap hari banyak masalah, maka bersedekah lah..
  9. Kaya itu, merasa cukup hingga mulai berbagi.. miskin itu selalu merasa kurang hingga terus meminta.
  10. Percayalah, Allah itu Maha Kaya. Mintalah sama Yang Maha Kaya.
  11. Ketika harta itu kita simpan sendiri tanpa berbagi, maka kadarnya hanya karat. Tetapi ketika kita berbagi kadarnya adalah manfaat..

ImageImage

 

Semoga bermanfaat.